Apakah masih Ada yang Bisa Kita Banggakan?

Media Indonesia – Umum (19/12/2000 00:14 WIB)

  Prof Dr Sapardi Djoko Damono

KETIKA dihubungi oleh salah seorang koresponden harian ini, saya agak terkejut mendengar pertanyaan `sepele` yakni, “Mas, apa yang bisa kita pamerkan kepada bangsa lain selain segala macam berita yang buruk mengenai kita?” Saya segera membayangkan bahwa dunia ini sebuah ruang pameran yang sangat luas, atau deretan etalase, tempat memamerkan kebanggaan bangsa-bangsa yang masing-masing memiliki kekhasan. Dan, kekhasan yang bisa dibanggakan Indonesia tak lain adalah segala macam berita yang ditawarkan atau dijual oleh begitu banyak media massa asing, yang beberapa di antara kemudian dikutip juga oleh media massa kita sendiri. Tentu saja media massa kita sendiri pun harus bersaing menyiarkan pelbagai berita yang bisa dipasarkan. Aceh, Ambon, Bulog, Gus Dur, Tommy, dan BI adalah beberapa contoh saja dari barang dagangan yang dianggap laku dijual.

Tetapi itu semua memang tugas media massa, kita tidak boleh berpikiran macam-macam. Singkat kata, segala berita yang disiarkan ramai-ramai itu menyebabkan kita berkesimpulan bahwa kita sudah benar-benar ambruk. Benar-benar terpuruk lahir-batin, meskipun dalam kenyataannya kita semakin banyak membeli mobil mewah, kita masih bisa tertawa atau ditertawakan seperti ketoprak humor, naskah sastra menumpuk di laci redaksi koran, dan sebagian besar orang kota masih tetap memadati mal dan supermarket. Kita malah suka menyebut diri kita bangsa halus budi bahasanya meskipun suka berbunuh-bunuhan, bangsa yang ramah meskipun sekarang lebih suka menyeringai, dan bangsa yang punya tradisi gotong-royong meskipun nyatanya lebih bangga jika bisa ikut-ikut meributkan hal-hal sepele.

Tetapi, semua yang menyenangkan itu toh tidak bisa menghapus kesimpulan mengenai bangsa kita sendiri. Kita ini sudah sama sekali hopeless, tidak ada harapan, di samping tidak ada yang bisa kita pamerkan (kepada bangsa lain). Mungkin hanya pariwisata yang bisa dijadikan akses untuk pembicaraan selanjutnya. Dalam kerangka berpikir mengenai etalase itulah, saya akan menyampaikan pengalaman saya sendiri melihat salah satu bangsa yang juga sering kita sebut dalam setiap pembicaraan, yakni Jepang. Dalam etalase negeri ini, tentu saja tidak perlu lagi dipamerkan hasil teknologi yang telah dicapainya sebab segala yang bisa dibuatnya sudah menjulur ke sana ke mari bagaikan belalai gurita. Betapa pun kayanya ia, dan betapa pun kuatnya globalisasi yang merangsek masuk, ia tetap terus-menerus berusaha sebaik-baiknya untuk tetap menjadi Jepang. Yang tak lain berupa paradoks, yakni klasik sekaligus modern.

Beberapa waktu yang lalu, ketika itu awal musim semi, saya bersama seorang pakar musik, Suka Hardjana, mendapat kesempatan untuk menjadi `turis` di Jepang selama dua minggu. Pada hari pertama, untuk kami telah dipersiapkan tiket untuk menonton pergelaran musik klasik oleh Tokyo Philharmonic Orchestra. Kami mendapat tempat di larik paling depan dan tepat di tengah sehingga merasa seolah-olah pergelaran itu memang diselenggarakan untuk kami. Meskipun terus terang saja, saya tidak terbiasa menonton pergelaran semacam itu (paling hanya mendengar dari CD), telinga saya berusaha sebaik-baiknya untuk bisa menangkap keindahan pergelaran itu.

Yang menarik perhatian saya adalah benyaknya anak muda yang menonton, mengenakan celana jins dan jaket karena udara masih dingin, tentu bukan karena AC saja. Mereka tenggelam dalam pergelaran itu dan dengan tepat memberikan aplaus setiap sebuah lagu diselesaikan. Anak-anak muda itu tentulah generasi baru orang Jepang yang sudah sejak lama mengembangkan segala jenis hasil kesenian –yang berasal dari mana pun. Jika menyenangi musik jazz, kita tentu masih ingat salah satu grup jazz internasional berasal dari Jepang, Cassiopea.

Setelah itu saya dan Suka Hardjana berpisah mengikuti rute `turis` sendiri-sendiri, dan selama dua minggu saya dipandu mengunjungi sejumlah besar tempat pariwisata yang penting, yang selalu penuh sesak dengan turis, terutama turis lokal –kebanyakan pasangan orang tua yang masih kuat berjalan naik-turun bukit beberapa kilometer jauhnya. Yang sampai sekarang masih lekat dalam ingatan saya adalah bunga sakura, yang membuat saya merasa seperti mabuk. Di hari terakhir, kami berdua bersama lagi. Bagi kami, sudah tersedia tiket untuk pertunjukan ketoprak atau ludruk Jepang, yakni kabuki, di Tokyo. Tempat duduk penuh meskipun pertunjukan dua kali sehari. Penontonnya terutama `turis` lokal yang sudah tua-tua, berbeda dengan pergelaran musik klasik dua minggu sebelumnya.

Dalam benak saya muncul perasaan aneh; saya masuk Jepang lewat musik Barat dan meninggalkannya lewat teater Timur. Di sela-selanya ada begitu banyak keraton, rumah pemujaan, dan pemandangan yang saya saksikan. Semua itu kebanyakan terekam dalam benak dan hasil potretan saya, namun ya `hanya` berupa gambar. Satu-satunya yang masih saya miliki dan selalu saya ulang menghayatinya adalah sebuah buku kecil yang dihadiahkan oleh Wing Kardjo, seorang sastrawan dan guru besar di sebuah universitas di Kyoto. Buku mungil itu adalah kumpulan cerpen mini Kawabata Yasunari yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris Terutama dari buku itulah ternyata saya bisa menghayati Jepang. Buku itu adalah bangsa dan kebudyaan Jepang yang portable, yang mudah dijinjing ke mana-mana dan bisa dihayati sampai entah kapan. Di dalam buku mungil itulah, terekam hampir semua yang saya hayati selama dua minggu awal musim semi itu. Kumpulan cerpen itu adalah Jepang, seperti halnya haiku dan tanka.

Apakah kita memiliki semua seperti yang dipamerkan bangsa Jepang itu? Jawabnya positif. Yang negatif adalah gambaran mengenai Indonesia seperti yang sudah disinggung di awal karangan ini. Gambaran negatif itu bahkan merembes ke dalam segala aspek kehidupan kita, termasuk kesenian. Sastra, seni rupa, teater, dan musik – misalnya – bahkan juga ikut mengumandangkan gambaran negatif itu. Kadang-kadang agak berlebihan, mungkin karena ingin menyaingi hiruk-pikuknya berita koran. Kita seperti sama sekali tidak punya apa pun untuk dipamerkan, padahal kita punya berbagai jenis kesenian. Tetapi mengapa mesti kesenian? Ya, karena setidaknya itulah kekayaan milik kita yang sekarang ini tidak dianggap sebagai barang impor. Tetapi, media massa di mana pun tidak akan menyebarluaskan berita tentang `anjing menggigit manusia`, bukan? Tidak begitu berminat menanggapi pameran lukisan, misalnya, kecuali yang ada huru-haranya seperti rencana pamerean lukisan yang oleh sementara kalangan dianggap palsu tempo hari. Di Jepang sama saja. Kabuki dan cerpen mini Kawabata tentu saja tidak bisa dijual di koran-koran. Yang laku adalah debat di parlemen, nilai yen yang sempat merosot terhadap dolar, dan penggusuran perdana menteri.

Etalase budaya yang saya lihat saksikan di Jepang itu jelas menyangkut kerja keras dalam perancangan maupun pelaksanaannya. Harus diakui bahwa merancang etalase semacam itu untuk negeri kita jelas lebih sulit, dan oleh karenanya memerlukan kerja yang lebih keras. Jika Jepang sering dikategorikan sebagai bangsa yang monokultur, kita ini bangsa yang bineka dalam segenap aspek kehidupan. Jika berhasil, kita tentunya bisa memiliki etalase yang menarik perhatian bangsa asing maupun kita sendiri sehingga anak-anak tidak lagi suka tawuran dan orang tidak tertarik lagi untuk berdemonstrasi setiap hari. Tetapi, tampaknya sampai hari ini kita lebih tertekan oleh berita mengenai merosotnya nilai rupiah, yang kemudian dikait-kaitkan dengan ucapan aneh-aneh para pemimpin politik.
Kita tentu saja tidak bisa mengharapkan banyak dari media massa asing (dan kita sendiri, tentu saja) untuk memamerkan dan membanggakan sisi lain dari Indonesia. Sudah sangat sering kita mengirimkan misi kesenian ke luar negeri, antara lain sebagai semacam alat untuk menarik investor asing. Namun, berapa lama semua itu mampu menetap dalam benak sejumlah orang yang menghadiri pagelaran kesenian seperti itu, dan yang sangat mungkin tidak berminat terhadapnya? Saya tidak sama sekali menolak pentingnya kegiatan itu, tetapi hanya sekadar mengajukan kenyataan bahwa kita punya lebih dari yang sudah saya sebut itu. Dari yang bisa diangkut keluar, seperti tarian; sampai dengan yang tidak mungkin diusung ke luar, seperti Borobudur. Itu yang bisa kita banggakan sebab upaya memamerkan pesawat terbang buatan sendiri tampaknya tidak kita minati lagi, mungkin karena menurut sementara orang itu memang merupakan hal yang rada-rada absurd.

Pengalaman saya di Jepang itu adalah bagian dari pariwisata, meskipun saya sepenuhnya dibiayai sebuah lembaga Jepang. Sepanjang pengalaman saya itu, pariwisata Jepang terutama adalah wisata budaya, bukan wisata alam. Kita, kalau mau, malah bisa mengembangkan keduanya meskipun tampaknya lebih banyak perhatian kita pusatkan pada wisata budaya juga. Menyinggung hal ini, mau tidak mau kita harus menyebut-nyebut Bali. Ada sejumlah pantai yang bisa kita `jual` — kata lain untuk `pamerkan` atau `banggakan.` Di samping itu ada pula berbagai jenis upacara dan bentuk kesenian yang menarik perhatian turis, bangsa sendiri maupun bangsa lain. Mungkin saja ada sejumlah turis yang sepanjang hayatnya akan mengenang Bali dan segenap isinya, tetapi Bali `hanya` sebagian dari Indonesia — meskipun saya pernah ditanyai seorang asing di negeri asing apakah Indonesia itu bagian dari Bali. Itu berarti kita sudah berhasil `menjual` Bali, salah satu kebanggaan kita.

Kita suka membayangkan bahwa turis asing di Bali hanya suka berjemur di Pantai Kuta atau menyaksikan sejumlah besar pura dan puri. Mereka kita anggap gerombolan manusia yang datang ke Indonesia untuk menghabis-habiskan waktu saja, yang sebelum pulang ada yang mengumpulkan suvenir berupa kain sarung atau patung kecil atau gambar batik. Kita suka lupa bahwa sebagian dari mereka itu adalah orang-orang yang melek budaya, tidak sekadar melek huruf. Sebagian dari mereka bisa kita klasifikasikan sebagai orang-orang yang dalam bahasa Inggris dianggap lettered atau cultured. Mereka tentu saja berminat tehadap segala pertunjukan dan segala bangunan antik itu, tetapi juga tentu berminat terhadap benda budaya lain yang jarang kita perhatikan, yakni buku. Saya sampai sekarang masih suka membalik-balik buku Kawabata dan boleh dikatakan sudah `melupakan` sakura dan pura Jepang dan tontonan lain. Saya masih bisa menghayati Jepang dari buku itu, sama halnya dengan ketika saya duduk di gedung teater Tokyo yang menyuguhkan kabuki. Bedanya adalah bahwa buku Kawabata itu portable, mudah saya jinjing ke mana-mana dan bisa saya hati (?) kapan pun. Saya mengintip Jepang dari buku mungil itu.

Ketika masih kecil dan remaja, banyak di antara kita yang sudah berkenalan dengan buku-buku terjemahan dari pelbagai negeri. Dan marilah kita akui bahwa gambaran mengenai negeri-negeri itu dapat kita peroleh dari buku-buku tersebut. Mengapa ada usaha untuk menerjemahkan buku-buku itu ke dalam bahasa lain? Jawabnya tak lain karena setiap orang memiliki rasa ingin tahu, antara lain untuk mengenal dan menghayati bangsa lain. Waktu masih di sekolah rakyat (sekarang SD), saya berkenalan dengan beberapa buku terjemahan antara lain karangan sastrawan Amerika Wiliam Saroyan, Komedi Manusia, terjemahan dari The Human Comedy. Beberapa adegannya tidak pernah bisa terhapus dari benak dan kesadaran saya. Saya pun kemudian mengenal dan menghayati bangsa-bangsa lain lewat terjemahan karya sastra mereka. Kita bisa menghayati dan menghargai bangsa Cina lewat cerita-cerita Lu Hsun. Tanpa harus datang ke negeri itu kita sudah merasa mengenal budaya dan watak bangsa Cina, `hanya` lewat karya sastra sebab karya sastra konon mampu antara lain merekam bahkan perubahan-perubahan yang paling subtil yang terjadi dalam kebudayaan suatu bangsa.

Dan benda budaya semacam itulah yang bisa kita banggakan, dan kita kemas untuk dipajang di etalase. Ingat bahwa buku sastra adalah juga media, meskipun berbeda dari apa yang disebut sebagai media massa. Yang masih bisa kita banggakan adalah I La Galigo, sebuah epos Bugis-Makassar yang konon terpanjang di dunia, sejumlah besar tambo Minangkabau, Babad Jawa, dan tentu saja segenap karya sastra modern yang baik, yang merupakan rekaman dari watak kita sebagai bangsa. Turis asing yang cultured akan dengan senang hati membeli itu semua apabila diterjemahkan dan dikemas secara profesional. Dan seperti halnya kumpulan cerpen Kawabata dan novel Saroyan, karya sastra kita yang baik akan mampu bertahan dalam penghayatan sejumlah orang asing yang, siapa tahu, gagasannya berpengaruh di negerinya. Kita harus mulai memusatkan perhatian ke arah itu. Saya kira itulah yang masih dapat kita banggakan.***

*)Sastrawan; Kritikus Sastra

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: